Senin, 30 November 2009

Prabowo Kobarkan Patritiosme

Tudingan Partai Gerindra pimpinan Prabowo Subianto militeristik makin kuat. Namun anggapan itu ditepis karena Prabowo sudah lama menjadi orang sipil dan berkomitmen menolong petani, nelayan dan pedagang tradisional yang terpinggirkan.

Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto mendapat gelar 'panglima perang' dalam Pemilu 2009 oleh partainya. Namun sebutan itu hanyalah sebuah istilah dan tidak akan menjadi militeristis.

"Prabowo dan Gerindra sudah komit untuk rakyat, tidak akan militeristis dan berjuang secara damai dan antikekerasan. Kita tak mau disandera masa lalu, kita akan terus menapak ke depan menjaga kebhinekaan, membangun Indonesia raya yang kita cita-citakan,"

Karena itu, kontrol dan kritik dari civil society tetap diperlukan bagi Prabowo dan Gerindra. Dengan istilah 'panglima perang' itu, kata Prof Suhardi, Ketua Umum DPP Partai Gerindra, diharapkan partainya makin bersemangat, merakyat dan bisa menang dalam Pemilu 2009 nanti.

Partai Gerindra lahir sebagai buah dari demokratisasi, yang mengharuskan munculnya partai-partai politik untuk memberi kebebasan kepada rakyat memilih pemimpinnya yang terbaik.

"Gerindra adalah konsekuensi dari tuntutan demokrasi dan kita harus berbuat yang terbaik bagi rakyat. Para kader Gerindra dan rakyat harus saling menolong dan saling mengingatkan sebagai sesama warga negara dan anak bangsa,''

Dalam pandangan Prabowo saat ini politik dapat menentukan berapa uang yang harus dikeluarkan untuk sekolah, rumah sakit, perbaikan jalan, pelabuhan, lapangan terbang, polisi, tentara, PNS, listrik dan air bersih.

"Jadi, kalau kita ingin mengubah kehidupan ke arah yang lebih baik maka harus berani dan tidak alergi dengan politik, karena politik tidak sekejam seperti yang kita bayangkan," tandas Prabowo.

Para analis memang mengharapkan Gerindra menjadi partai yang bersih dan benar-benar ingin mengabdi kepada rakyat Indonesia dalam upaya memperbaiki kehidupan bangsa. ''Gerindra harus bisa jadi partai kader yang handal,'' kata Yudi Latif PhD, Direktur Reform Institute.

Prabowo pun menyadari, rakyat akan kecewa dan semakin apatis apabila partai berdiri hanya menjadi wadah untuk kepentingan sekelompok orang. Baginya, partai yang hanya menjadi wadah untuk mencari keuntungan pribadi, akan ditinggalkan dan dicemoohkan oleh rakyat.

Apalagi rakyat saat ini tengah mengalami berbagai kesulitan di bidang ekonomi dan berharap parpol bisa menjadi harapan mengatasi persoalan tersebut.

Mantan Danjen Kopassus ini mengutarakan alasannya terjun ke dunia politik. Prabowo mengaku ingin memperbaiki kehidupan masyarakat dan rakyat. Jika dirinya tidak berpolitik, berarti tidak bisa ikut mengambil keputusan.

"Seperti pepatah nenek moyang dulu, kalau orang baik semua bersikap diam, berarti yang berkuasa orang jahat. Kita tak boleh diam, orang baik tak boleh diam karena yang berkuasa bakal orang jahat,"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar