Rabu, 02 Desember 2009

SEKEDAR ANGIN SORGA

BANYAK opini yang dilansir media cetak atau pun elektronik yang menyebutkan bahwa pasangan calon presiden Megawati Soekarnoputri, yakni Prabowo Subianto dinilai masih punya peluang di Pemilu Presden (Pilpres) 2014. Pertanyaan dan persoalannya adalah darimana peluang tersebut diasumsikan? Terus terang, saya kurang sependapat dengan opini yang demikian itu. Saya akan setuju Prabowo masih akan punya peluang di Pilpres 2014, jika sekarang minimal menjadi Wakil Presiden atau calon wakil presiden terpilih. Jika ternyata tidak dan hanya menjadi calon wakil presiden yang kalah dalam Pilpres 2009. Maka harapan di Pilpres 2014 sebagai sesuatu yang nyaris tidak mungkin tercapai.

Ada beberapa alasan dan pertimbangan mengapa saya berpikir semacam itu, diantaranya, Pertama adalah menyangkut usia Prabowo yang di tahun tersebut pasti bertambah. Dengan usia yang semakin tua, maka power atau pun tenaga dan kekuatan serta kharisma yang dimilikinya semakin luntur. Kedua, dukungan publik tentu tidak akan lebih bagus dari sekarang. Apalagi jika lawan politik yang bakal dihadapinya dalam Pilpres nanti mampu mengambil hati rakyat sedemikian rupa. Ketiga, nasib Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) sendiri belum tentu akan lebih baik dari kondisi saat ini. Artinya, perolehan suara partai tersebut akan jauh naik atau lebih turun masih akan kita lihat dalam lima tahun terakhir ini.

Keempat, Prabowo dan orang-orangnya pun harus berhitung dengan siapa kelak mereka harus bertanding. Jika lawan-lawan yang akan dihadapi adalah lawan-lawan yang sekarang dihadapinya. Kemungkinan Prabowo menang di Pilpres 2014 juga amat sangat tipis. Terlebih, sekali lagi, jika lawan politik yang dihadapinya mampu menjinakan hati dan pikiran para konstituen. Kelima, sistem dan paradigma masyarakat pemilih pasti akan terjadi pergeseran yang sangat luar biasa. Ini sejalan dengan pergantian generasi, dari generasi primordial kepada generasi yang melihat persoalan lebih kritis. Dengan perubahan generasi ini pasti akan berdampak terhadap sikap para pemilih sendiri. Gejala itu pun telah nampak dalam Pilpres bahwa kharisma seseorang ternyata tidak mampu meluluhkan hati para pemilih.

Keenam, adalah munculnya tokoh baru dari generasi saat ini yang akan menjadi petarung hebat di Pilpres 2014 nanti. Hal ini bukan mustahil akan terjadi. Jika di Amerika Serikat (AS) bisa muncul tokoh semacam Barack Husein Obama, tokoh yang sebelumnya tidak dikenal dan diperbincangkan publik. Mengapa di Republik ini tidak bisa ada tokoh semacam itu? Jika benar asumsi ini, maka tidak sebagaimana diopinikan sekarang bahwa Prabowo punya peluang di Pilpres 2014. Yang terjadi adalah sebaliknya, bahwa kemungkinan besar peluang Prabowo akan semakin kecil. Pertanyaannya adalah lantas apa yang harus dilakukan Prabowo?

Prabowo harus konsisten dan konsekwrn dengan sikapnya. Jika sekarang dia tengah mencari berbagai macam bukti tentang kecurangan Pilpres 8 Juli 2009. Maka terus dilakukan, jangan berhenti, putus asa atau mogok di tengah jalan. Dan hal tersebut tidak mungkin dilakukan sendirian dengan area penyelidikan yang sangat luas. Prabowo harus mampu mengerahkan semua potensi yang dimilikinya untuk membuktikan dugaannya. Di sisi lain, para orang dekat Prabwo juga tidak hanya menonton tanpa berbuat apa-apa, terutama mereka yang telah mendapatkan berkah dengan menjadi calon terpilih anggota legislative dari Partai Gerindra.

Dengan sikap konsisten dan konsekwen, serta militansi para orang dekatnya, kita sangat yakin, bahwa kemungkinan usaha tersebut akan membuahkan hasil. Mungkin tidak maksimal hasil yang dicapai. Namun apa pun itu pasti akan menjadi catatan dan perhitungan tersendiri bagi lawan politiknya. Paling tidak, jika sikap itu yang diambil, Prabowo telah menunjukan kepada publik bahwa dia memang bersungguh-sungguh untuk menjadi pemimpin kita. Usahanya tersebut, paling tidak akan mendekatkan Prabowo kepada konstituen yang kelak akan sangat bermanfaat, bilamana dia kembali mencalonkan diri menjadi calon presiden di Pilpres 2014.

Hal tersebut pernah pula dilakukan SBY. Dia menjadi presiden, usahanya bukan hanya dilakukan di tahun 2004. Namun jauh sebelumnya, paling tidak setelah dia dekat dengan istana. Secara sabar SBY melakoni perannya itu , sampai kemudian muncul peluang di Pilpres 2004. Jika Prabowo ingin menjadi presiden mendatang, maka lakukan sekarang juga. Jangan menunggu nanti, sebab lawan politik pun sekarang sudah melakukannya. Bahkan sudah lari sangat jauh yang nyaris sulit terkejar, kecuali dengan tenaga ekstra dan niat yang sungguh-sunggguh. Jika tidak percaya? Ya, silahkan kita lihat bersama

Selengkapnya...

Senin, 30 November 2009

Partai GERINDRA Melarang / Mengharamkan Kadernya Korupsi

Pada pidatonya dalam rangka memperingati hari ulang tahun kemerderkaan Republik Indonesia di hadapan para pimpinan dan kader Partai Gerindra di Karanggan, Bogor, menyatakan bahwa kader Partai Gerindra diharamkan untuk melakukan korupsi.

Menurut pemaparan beliau, Partai Gerindra berniat menyelamatkan bangsa. Oleh karena itu, segala praktek tidak baik yang telah dilakukan oleh orang lain selama ini tidak boleh dilakukan oleh kader Partai Gerindra. Bagaimana mungkin Partai Gerindra akan menyelamatkan bangsa apabila perilakunya tidak berbeda dengan mereka yang merugikan bangsa?

Pada kesempatan tersebut Pak Prabowo Subianto juga memperkenalkan Ibu Armin Arjoso, mantan Kepala BKKBN, yang telah bergabung dengan Partai Gerindrta dan akan berjuang di wilayah Jawa Tengah. Pak Prabowo mengatakan bahwa selama sepuluh tahun ini program KB telah dilupakan sehingga akibatnya, Indonesia akan menghadapi ledakan penduduk. Partai Gerindra akan kembali memperhatikan dan menggalakkan program KB agar pertumbuhan penduduk Indonesia dapat dikendalikan.

Selain itu, Pak Prabowo juga mengingatkan bahwa bangsa kita harus bangkit dan mandiri. Kita harus malu menjadi bangsa pengutang. “Apakah para pendiri bangsa dulu berjuang agar kita menjadi bangsa peminjam?” Seluruh hadirin menjawab serentak, “TIDAAAAKKKK!!!!”
Selengkapnya...

Prabowo Kobarkan Patritiosme

Tudingan Partai Gerindra pimpinan Prabowo Subianto militeristik makin kuat. Namun anggapan itu ditepis karena Prabowo sudah lama menjadi orang sipil dan berkomitmen menolong petani, nelayan dan pedagang tradisional yang terpinggirkan.

Ketua Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto mendapat gelar 'panglima perang' dalam Pemilu 2009 oleh partainya. Namun sebutan itu hanyalah sebuah istilah dan tidak akan menjadi militeristis.

"Prabowo dan Gerindra sudah komit untuk rakyat, tidak akan militeristis dan berjuang secara damai dan antikekerasan. Kita tak mau disandera masa lalu, kita akan terus menapak ke depan menjaga kebhinekaan, membangun Indonesia raya yang kita cita-citakan,"

Karena itu, kontrol dan kritik dari civil society tetap diperlukan bagi Prabowo dan Gerindra. Dengan istilah 'panglima perang' itu, kata Prof Suhardi, Ketua Umum DPP Partai Gerindra, diharapkan partainya makin bersemangat, merakyat dan bisa menang dalam Pemilu 2009 nanti.

Partai Gerindra lahir sebagai buah dari demokratisasi, yang mengharuskan munculnya partai-partai politik untuk memberi kebebasan kepada rakyat memilih pemimpinnya yang terbaik.

"Gerindra adalah konsekuensi dari tuntutan demokrasi dan kita harus berbuat yang terbaik bagi rakyat. Para kader Gerindra dan rakyat harus saling menolong dan saling mengingatkan sebagai sesama warga negara dan anak bangsa,''

Dalam pandangan Prabowo saat ini politik dapat menentukan berapa uang yang harus dikeluarkan untuk sekolah, rumah sakit, perbaikan jalan, pelabuhan, lapangan terbang, polisi, tentara, PNS, listrik dan air bersih.

"Jadi, kalau kita ingin mengubah kehidupan ke arah yang lebih baik maka harus berani dan tidak alergi dengan politik, karena politik tidak sekejam seperti yang kita bayangkan," tandas Prabowo.

Para analis memang mengharapkan Gerindra menjadi partai yang bersih dan benar-benar ingin mengabdi kepada rakyat Indonesia dalam upaya memperbaiki kehidupan bangsa. ''Gerindra harus bisa jadi partai kader yang handal,'' kata Yudi Latif PhD, Direktur Reform Institute.

Prabowo pun menyadari, rakyat akan kecewa dan semakin apatis apabila partai berdiri hanya menjadi wadah untuk kepentingan sekelompok orang. Baginya, partai yang hanya menjadi wadah untuk mencari keuntungan pribadi, akan ditinggalkan dan dicemoohkan oleh rakyat.

Apalagi rakyat saat ini tengah mengalami berbagai kesulitan di bidang ekonomi dan berharap parpol bisa menjadi harapan mengatasi persoalan tersebut.

Mantan Danjen Kopassus ini mengutarakan alasannya terjun ke dunia politik. Prabowo mengaku ingin memperbaiki kehidupan masyarakat dan rakyat. Jika dirinya tidak berpolitik, berarti tidak bisa ikut mengambil keputusan.

"Seperti pepatah nenek moyang dulu, kalau orang baik semua bersikap diam, berarti yang berkuasa orang jahat. Kita tak boleh diam, orang baik tak boleh diam karena yang berkuasa bakal orang jahat,"
Selengkapnya...

Prabowo Bukan Presiden Iklan

Banyaknya iklan dengan figur Prabowo Subianto, tidak berarti mantan Danjen Koppasus itu hanya populer di media massa, namun juga di tingkat rakyat di daerah. Setidaknya, hal itu seperti diakui Partai Gerindra (Gerakan Indonesia Raya).

Gerindra, menurut Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani, pihaknya tidak ingin mendapatkan popularitas dari belanja iklan. Tapi, juga ingin menampilkan partai yang memperjuangkan nasib rakyat.

"Kita akan gerakkan partai ini. Jangan hanya jadi partai papan nama, terjebak pada janji kosong. Partai yang hanya memperoleh popularitas iklan," kata Muzani, di sela-sela Rapimnas Partai Gerindra, Rabu (15/10).

Karena itu, ia menampik jika dikatakan calon presiden Gerindra Prabowo hanya populer lewat iklan. Walaupun begitu, ia mengakui iklan kampanye merupakan mesin partai. "Karena tidak mungkin Prabowo menemui semua kecamatan. Maka, yang harus mewakili semuanya adalah partai," jelasnya.

Figur Prabowo sendiri tampil setidaknya di tiga iklan, yakni di iklan Partai Gerindra, HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia), dan APPSI (Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia). Namun, Gerindra mengaku tidak menanggung biaya iklan HKTI dan APPSI. [R2]

Selengkapnya...